Bawa Bahan Peledak, Nelayan Bajoe Dibekuk Ditpolair Polda Sulsel

04 April 2019 20:26
Bawa Bahan Peledak, Nelayan Bajoe Dibekuk Ditpolair Polda Sulsel

POSMAKASSAR.COM – Direktorat Kepolisian Perairan (Ditpolair) Polda Sulsel mengamankan seorang nelayan yang kedapatan membawa puluhan bahan peledak atau bom ikan, Minggu (30/3/2019).

Kabar penangkapan nelayan asal Bajoe Kabupaten Bone tersebut, diungkap ke publik empat hari kemudian melalui konferensi pers yang digelar di aula Ditpolair Polda Sulsel, Kamis (4/4/2019).

“Pada 30 Maret tepatnya hari Sabtu, anggota kami melaksanakan patroli di Kampung Bajoe, Bone. Dari situ kami mendapat informasi dari masyarakat bahwa sering terjadi penangkapan ikan dengan menggunakan bom,” kata Direktur Polair Polda Sulsel, Kombes Pol Purwoko Yudianto.

Dari informasi yang diperoleh, kata Porwoko, personelnya pun bergerak melakukan pencarian nelayan yang melakukan penangkapan ikan menggunakan bom.

Rida diamankan bersama puluhan botol dan sejumlah jirigen berisi bahan peledak, yang siap pakai.

“Dari barang bukti yang ada, kapal tersebut (yang dinahkodahi Rida) siap mengedarkan ke kapal-kapal lain untuk digunakan,” ujar Purwoko Yudianto.

Barang bukti yang diamankan berupa 28  jirigen ukuran satu hingga lima liter yang berisi aluminium nitrate (bahan peledak), 34 botol miras yang juga berisi aluminum nitrate dan dua botol plastik mineral berisi TNT.

Selain mengamankan bahan peledak, Ditpolair juga mengamankan perahu yang digunakan Rida, alat penyelam, seperti kacamata selam, sepatu katak, dan alat pernafasan, kompresor beserta selangnya.

Kapolda Sulsel Irjen Pol Hamidin mengungkapkan, akibat penggunaan bom ikan oleh nelayan, sejumlah wilayah di dasar laut Sulsel mengalami kerusakan yang parah.

“Situasai lingkungan khususnya bawa laut di Sulsel, sejak 2005 saya disini, saat itu terjadi keurasakan di beberapa titik. Seperti di Lanjukkang, Kapoposan dan hamir di semua pulau itu ada kerusakan,” kata Hamidin.

Mantan Deputi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) ini pun menguarikan bahan yang terkandung dalam bom ikan tersebut.

“Bom ini adalah bom yang dirakit dari pupuk, kemudian diberikan bahan bakar solar dianginkan itu namanya aluminum nitrat feul olil (ANFO). Nah kemudian dikasih detonator, diberikan denkop atau dengan sumbuh,” ujarnya

Bom yang digunakan nelayan tersebut, menurut Hamidin masuk dalam kategori bom berdaya ledak rendah (low eksplosive).

Namun, kerusakan yang ditimbulkan berdampak besar pada keberlansungan hidup biota laut seperti terumbuh karang dan ikan.

“Kalau bahan ini satu kilo ANFO (aluminum nitrat feul olil) itu diledakkan dalam air maka akan terjadi kerusakan 15X25 atau sekitar 500 meter persegi terumbu karang,” terangnya.

Akibat perbuatannya, Rida dijerat pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dan pasal 85 Undang-Undang RI Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 dengan ancaman hukuman lima hingga 20 tahun penjara. (Rls)

loading...

Posmakassar.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya