Soal Siswa SMP Yang Tewas, Polisi Bantah Ada Penembakan

18 May 2019 00:30
Soal Siswa SMP Yang Tewas, Polisi Bantah Ada Penembakan

POSMAKASSAR.COM – Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, AKBP Indratmoko, membantah jika terjadi penembakan terhadap warga sipil, saat pembubaran balapan liar di Jalan Cenderawasih beberapa waktu lalu. 

Seperti yang diberitakan sebelumnya, seorang siswa SMP, Sandi Saputra bin Sukardi (15) diduga menjadi korban penembakan liar oleh oknum Polisi di Makassar, pada hari Minggu (12/5/2019).

Korban merupakan warga perkampungan Hollywood Lorong 312 Jalan Nuri, Kelurahan Bontomarannu, Kecamatan Mariso, Kota Makassar.

Korban dikabarkan mengalami luka tembak di bagian kepala kiri bawah. Sebelum dinyatakan meninggal pada Rabu (15/5/2019) sore, korban yang dalam keadaan koma sempat dirawat selama empat hari di RS Bhayangkara, Kota Makassar.

“Gak ada penembakan atau salah tembak, tidak ada laporannya masuk di Polrestabes Makassar,” tegas kasat Reskrim Polrestabes Makassar, AKBP Indratmoko, kepada awak media. 

Katanya, waktu hari Minggu kemarin, ada laporan masuk di SPKT Polrestabes Makassar, namun bukan korban salah tembak atau penembakan.

“Yang ada laporan dugaan penganiayaan, dan masih kita selidiki sekarang bukan laporan salah tembak atau penembakan,” lanjutnya.

Sementara kakak kandung korban, Amirullah (24), mengakui bila adiknya menjadi korban salah tembak oleh oknum polisi saat membubarkan balapan liar di Jalan Cenderawasih. Ia juga mengakui sudah melaporkan kasus penembakan tersebut ke pihak Polrestabes Makassar.

“Saat adik saya dirawat di RS Bhayangkara, saat itu itu juga saya melapor ke Polrestabes Makassar. Polisi saat itu janji dalam 12 jam, pelakunya akan ditangkap. Tetapi sampai sekarang belum ada hasil,” bebernya. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa penembakan yang dialami Sandi Saputra ini, terjadi pada Minggu (12/05/2019) pagi, sekitar pukul 06.30 Wita. Awalnya, Sandi Saputra bersama temannya Fadli (24) berboncengan mengendarai motor dan pergi menjemput kakaknya, Amirullah (24).

Ketika pulang menjemput kakaknya, mereka berboceng tiga. Di tengah jalan, motor yang dikendarai Sandi Saputra ikut di kejar oleh polisi. Dan tak lama kemudian, diduga tanpa ada peringatan terlebih dahulu,  polisi kemudian melepaskan tembakan kearah mereka dan mengena bagian kepala Sandi Saputra.

Amirullah selaku kakak korban sekaligus saksi kejadian itu pun mengisahkan kronologis penembakan tersebut. Ia mengatakan, pada Minggu subuh itu, korban bersama seorang temannya menjemputnya di rumah. Dengan berbonceng tiga, mereka mengendarai motor menyusuri Jalan Cendrawasih bersama dengan konvoi motor lain. Amirullah yang mengendarai motor, korban berada ditengah sementara temannya (Fadli) duduk di belakang.

Tak cukup lama berkendara, mereka melihat polisi dari arah depan. Dari pernyataan kakak korban, polisi tersebut diketahui memakai motor KLX dengan perlengkapan lengkap. Dia menyakini polisi tersebut adalah Satuan Perintis. Namun saat ditanya perihal jumlah anggota Perintis, ia mengaku tak tahu.

Konvoi motor lain pada berhamburan, ia juga segera berbalik arah lantas menuju rumah tantenya di Jalan Baji Minasa. Ia mengaku kecepatan motor saat itu sekitar 60-70 km/jam. Awalnya ia tidak mengetahui bahwa mereka dikejar oleh satu motor satuan Perintis. Namun, temannya memperingatkannya untuk menambah kecepatan motor sebab sudah ada polisi yang mengejar. Kata Amirullah, saat itu hanya ada dua polisi dengan mengendarai satu motor berada dibelakangnya.

Tak cukup lama setelah berbelok, terdengar suara tembakan dari arah belakang. Kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 06.30. Awalnya Amirullah tidak menghiraukan suara tembakan tersebut. Ia mengira tembakan itu diarahkan ke atas. Namun temannya langsung panik, temannya meminta untuk menambah kecepatan motor, sebab temannya melihat korban sudah berdarah di bagian kepala.

“Balap ki cepat motormu, kena tembakan adikmu,” ujar Amirullah menirukan seruan temannya.

“Pas saya balik, saya lihat mi darah, saya bilang ke temanku, ‘pegang adekku, pegang adekku’”, ucap Amirullah kepada awak media saat ditemui dirumah korban, Rabu (15/5/2019) malam.

Ia pun segera menambah kecepatan karena takut akan ada penembakan lagi. Ia sempat menanyakan kepada temannya perihal keberadaan polisi tersebut, namun pengakuan temannya, polisi yang mengejarnya langsung berbelok arah setelah penembakan.

“Kalau motor itu, motor KLX, hitam-hitam dua, temannya yang gandeng ki, baru itu temannya di belakang yang menembak,” ucapnya. (*)

loading...

Posmakassar.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya