Balon Udara Ganggu Penerbangan, Airnav Makassar Terima Laporan Para Pilot

06 June 2019 19:54
Balon Udara Ganggu Penerbangan, Airnav Makassar Terima Laporan Para Pilot

POSMAKASSAR.COM – Pihak Airnav Cabang Makassar, Sulawesi Selatan menerima laporan dari para pilot pesawat terkait adanya balon udara yang mengganggu penerbangan.

Dari 28 laporan yang diterima, 13 laporan merupakan gangguan balon udara yang masuk dalam wilayah pengendalian Airnav Makassar.

“Jadi kemarin itu kita terima laporan sebanyak 28 terkait masalah balon udara. Dari 28 laporan, 13 itu masuk dalam areal pengendalian kami di sini. Selebihnya itu masuk dalam areal kontrol kami seperti di Yogya, Semarang dan Surabaya,” kata Deputy GM Perencanaan dan Evaluasi Operasi AirNav Cabang MATC, Davitson Aritonang, Kamis (6/6/2019).

Menurut Davitson, pihaknya bersama direktorat navigasi udara kini telah melakukan sosialisasi ke masyarakat terkait bahaya balon udara bagi penerbangan. Sosialisasi khususnya dilakukan di beberapa wilayah di Jawa Tengah yang memiliki tradisi menerbangkan balon udara raksasa saat lebaran seperti Wonosobo dan Pekalongan. 

“Saat Ramadhan lalu, kita sudah sosialisasi langsung ke masyarakat seperti di Wonosobo dan Pekalongan terkait bahaya balon udara bagi penerbangan kita. Tahun lalu itu laporan masuk mulai H-2 sampai hari H,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, balon udara yang masuk ke dalam mesin pesawat bisa membuat mesin pesawat mati, terbakar dan bahkan meledak. Jika ia nyangkut di ekor atau sayap, pesawat akan sulit dikendalikan. Selain itu, balon udara juga dapat mengganggu jarak pandang pilot.

“Intinya sangat membahayakan bagi penerbangan. Yang paling fatal itu, mesin pesawat bisa mati seketika kalau balonnya masuk ke mesin. Makanya kami terus mengimbau warga untuk tidak menerbangkan balon udara,” ujarnya.

Tahun sebelumnya, laporan yang diterima oleh Makassar Air Traffic Service Control (MATSC) mencapai 20 laporan. Artinya, balon itu terbang hingga mencapai ketinggian di atas 25 ribu kaki. Sementara total laporan yang diterima AirNav Indonesia, sebanyak 71 laporan.

Sementara itu, pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dikabarkan juga telah meminta masyarakat yang mempunyai tradisi perayaan Idul Fitri dengan balon udara berukuran besar, untuk melakukannya secara bijak yaitu dengan cara menambatkannya dengan ketinggian tidak lebih dari 150 meter sesuai dengan aturan PM 40 tahun 2018.

Melalui Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Polana B. Pramesti meminta masyarakat untuk tidak melepaskan balon udara berukuran besar tersebut karena akan mengganggu keselamatan penerbangan pesawat. Bahkan pihak yang melepaskan balon udara berukuran besar ke angkasa tersebut bisa dituntut melalui jalur hukum.

“Kami menghargai masyarakat di beberapa daerah yang mempunyai tradisi perayaan Idul Fitri dengan kegiatan festival balon udara. Namun kami mengajak masyarakat untuk bijak dan tidak melepaskan balon udara ke angkasa yang bisa mengganggu keselamatan penerbangan,” ujar Polana dalam keterangan tertulisnya, Kamis (6/6/2019).

Polana menjelaskan balon udara berukuran besar yang dilepaskan ke angkasa bisa membubung tinggi hingga ke ketinggian jelajah pesawat. Jika balon udara tersebut mengenai pesawat, bisa mengakibatkan terganggunya operasional pesawat tersebut dan mengakibatkan accident.

Sekedar diketahui, sejumlah daerah lazimnya melaksanakan festival balon udara saat dan setelah perayaan Idul Fitri setiap tahunnya. Seperti pada 12 Juni 2019, rencananya akan diadakan kegiatan Festival Balon Udara yang ditambatkan di Ponorogo dan Pekalongan. Sedangkan tanggal 15 Juni 2019 akan dilakukan kegiatan serupa di Wonosobo. (*)

loading...

Posmakassar.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya