Dianggap Melakukan Ujaran Kebencian, Danny Pomanto Polisikan Susuman Halim

08 August 2019 23:41
Dianggap Melakukan Ujaran Kebencian, Danny Pomanto Polisikan Susuman Halim

POSMAKASSAR.COM – Dianggap melakukan ujaran kebencian dan pencemaran nama baik, mantan Walikota Makassar Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto mempolisikan anggota DPRD Kota Makassar, Susuman Halim alias Sugali (Fraksi Demokrat), Kamis (8/8/2019)

Kepada awak media, Danny menjelaskan, laporannya itu terkait ujaran kebencian yang dilayangkan oleh Susuman Halim. Ia disebut-sebut tak ikut berbahagia dengan kemenangan PSM menjuarai Piala Indonesia. Bahkan, Danny dianggap sebagai satu-satunya warga yang tidak mendukung klub kebanggaan Sulsel itu.

Sebelumnya, Sugali diketahui telah memberikan keterangan pers kepada media yang menyatakan bahwa “Bisa saja satu-satunya orang yang tidak bergembira dan bersuka cita atas kemenangan PSM adalah Danny Pomanto, seharusnya sebagai mantan Walikota datang dong”.

“Jadi, saya kesini (Polrestabes Makassar) bersama teman untuk melaporkan ujaran kebencian. Saya laporkan Sugali,” kata Danny Pomanto kepada awak media, di Polrestabes Makassar, Kamis (8/8/2019), sekitar pukul 14.00 Wita.

Menurutnya, sebenarnya ia sudah terbiasa dikritik dan tidak pernah mempermasalahkan. Namun kali ini, dengan banyaknya dorongan masyarakat, ia terpaksa melaporkan karena ungkapan Sugali itu bisa menimbulkan bentrok horisontal.

“Saya lihat ini seakan ada sebuah rencana jahat yang harus memang diselesaikan secara hukum. Apalagi menyinggung SARA, jadi ini adalah contoh kurang bagus,” bebernya.

Danny terlihat ditemani sejumlah asisten dan koleganya. Ia menyambangi Mapolrestabes lebih kurang sejam.

Mantan Walikota Makassar yang berlatar belakang arsitek itu menuturkan, Sugali (terlapor) sebenarnya teman baiknya sejak dulu. Bahkan, kata dia, Sugali juga termasuk salah seorang yang pernah membantunya di DPRD Kota Makassar dulu. Namun, sangat disayangkan, saat ini Sugali membuat penyataan seperti itu.

“Beliau ini adalah teman baik saya, sehingga sangat di sayangkan kalau hal ini kemudian terjadi. Tapi ini adalah pelajaran buat kita Semua,” tambahnya.

Lebih jauh Danny membeberkan bahwa statement Sugali dibeberapa media yang menganggap ketidakhadirannya di Stadion Andi Mattalatta saat laga final berlangsung antara PSM Makassar dan Persija Jakarta, adalah sebagai bukti bila dirinya tidak mendukung PSM Makassar. Selain itu, Sugali juga menyebut bahwa siapa tidak kenal Ramang yang pernah membela Indonesia, andaikan Gorontalo ikut bertanding jadi dia ikut menonton beri support.

“Dia menganggap bahwa ketidak hadiran saya di stadion sebagai bentuk tidak adanya dukungan terhadap PSM. Ini sudah bohong, kenapa ? Memang saya hanya rumah saja, tetapi saya tetap melakukan nobar di garasi rumah. Selain itu, pada salah satu grup WA, pagi-pagi saya di undang dan langsung memberikan komentar bahwa saya prediksi 2-0 untuk PSM. Setelah menang saya langsung bilang salamaki PSM, salamaki kita semua. Alhamdulillah,” sambungnya.

Meski demikian, Danny Pomanto mengaku bahwa ia sebelumnya telah memberikan kesempatan kepada Sugali agar segera minta maaf dan mengakui kesalahannya ini. Tapi, hingga siang tadi, Sugali tak kunjung datang minta maaf dan terpaksa ia laporkan ke Polrestabes Makassar.

“Kesempatan minta maaf itu ada, tadi malam saya sudah sampaikan, tapi dia tidak datang. Hari ini masih saya ulur-ulur tadi sampai jam 10 pagi, sudah cukuplah. Saya kan tipe fighter kalau sudah masuk begini kita akan fight terus. Maju terus,” tegasnya.

Terpisah, Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Indratmoko saat dikonfirmasi membenarkan adanya laporan tersebut. Tapi ia mengaku dalam kasus ini belum bisa berkomentar banyak karena belum melihat laporan tersebut.

Sementara itu, Ahmad Rianto selaku kuasa hukum Danny Pomanto mengatakan , dalam pernyataan di salah satu media online, Sugali juga menyinggung soal Suku.

Menurut Ahmad Rianto, dari fakta–fakta tersebut, ada 2 pasal yang telah menjadi bahan kajian kemudian pihaknya menempuh jalur hukum dengan melaporkan peristiwa itu kepada pihak Kepolisian.

“Setelah kita kaji pernyataan–pernyataan, kata demi kata, ada dua fakta pelanggaran secara nyata yang telah dilakukan oleh Susuman Halim, Pasal 310 KHUP terkait pencemaran nama baik dan Pasal 28 UU ITE terkait SARA, itu dasar pelaporan kami, ” kata Ahmad Rianto, usai memasukkan laporan di Mapolrestabes Makassar, Kamis (8/8/2019).

Perlu diketahui, ungkap Ahmad Rianto, terkait pasal 310 KHUP, tentu secara penafsiran, setiap orang bisa melakukan keberatan, ketika ucapan atau tindakan seseorang itu telah menganggu atau membuat perasaan tidak nyaman. Menurutnya, yang bisa melaporkan pencemaran nama baik seperti yang tercantum dalam Pasal 310 adalah pihak yang diserang kehormatannya, direndahkan martabatnya, sehingga namanya menjadi tercela di depan umum.

“Artinya, yang berhak dalam posisi korban itu adalah orang yang merasa terganggu atau tidak nyaman atau dengan kata lain tidak mau menerima pernyataan dari seseorang yang bertolak belakang dengan fakta, dan pak Danny ada dalam posisi dirugikan, apalagi pernyataan Sugali tersebut sifatnya sangat tendensius yang bernuansa ujaran kebencian yang diarahkan kepada pribadi klien kami yakni pak Danny Pomanto, ” terang Ahmad Rianto.

Kemudian, cuitan Sugali di media online yang juga meraba kewilayah SARA, itu juga dapat terlihat dalam kutipannya dalam media online tersebut. Kata, Ahmad Rianto, saudara Sugali sangat jelas menyerempet ke issu SARA dengan menyebutkan, meskipun dan mengandaikan sifatnya, tetapi narasi yang dibangun oleh Sugali itu mengandung maksud dan tujuan dan ini dapat kita temukan pada pasal 28 UU ITE.

“Jelas issu SARA nya, pasalnya pernyataan yang menyinggung kesukuan itu bukan sifatnya personal tapi secara umum, pertanyaanya, apa maksud dan tujuan Sugali mengeluarkan pernyataan yang menyinggung nama suku, dan apa konotasi antara suku dengan sepak bola dalam hal ini laga PSM dan Persija dan soal menang atau kalah. Termasuk apa ukuran yang digunakan oleh Sugali dalam menilai senang atau tidak senangnya seseorang atas kemenangan PSM, ”

Ahmad Rianto menambahkan, prangkat hukum guna menjerat pelaku ujaran kebencian terdapat di pasal 28 ayat 2 Undang-Undang No 11/2018 tentang informasi dan Transaksi Elektronik, pasal 4 dan 16 UU Nomor 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis serta pasal 156 KUHP, pasal 157 KUHP, pasal 310 dan 311 KUHP. Aturan tersebut terkait dengan perilaku menyerang kehormatan atau nama baik (pencemaran) serta menimbulkan permusuhan, kebencian individu dan atau kelompok masyarakat tertentu (SARA), ” kunci Ahmad Rianto (*)

loading...

Posmakassar.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya