Siswi SMP Mengaku Diculik dan Disekap, Orang Tua Melapor ke Polrestabes Makassar

23 January 2020 23:03
Siswi SMP Mengaku Diculik dan Disekap, Orang Tua Melapor ke Polrestabes Makassar

POSMAKASSAR.COM – Seorang ibu rumah tangga, Yonavia Papilaya (55) warga Jalan Bonto Dg Irate II, Lorong 1 Nomor 19, Kelurahan Tidung, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, melaporkan kasus penculikan dan penyekapan terhadap putrinya, Vannesa (14) ke Polrestabes
Makassar.

Dalam laporannya, kasus penculikan dan penyekapan itu disebutkan terjadi pada Minggu 19 Januari 2020 lalu, pukul 18.00 petang dan dilaporkan dua hari kemudian, tepatnya 21 Januari 2020.

Yonavia melaporkan bahwa putrinya yang kini masih berstatus siswi SMP itu diculik oleh enam orang pria bertopeng.

Penculikan itu terjadi saat putrinya berjalan di dalam lorong menuju ke rumahnya, setelah keluar bersama tantenya bernama Imelda.

Saat dalam lorong, Vannesa mengaku dihampiri enam pria misterius dengan menggunakan penutup wajah (topeng).

Vannesa yang ketakutan berusaha lari, namun berhasil disergap. Mulutnya lalu ditutup agar tidak berteriak, lalu dimasukkan ke dalam mobil.

Di dalam mobil, Vannnesa mengaku dibius lalu dibawa ke sebuah rumah kosong.

Dua hari setelah aksi penculikan itu, Vannesa yang berada di rumah kosong tempat penyekapan enam pria itu, kemudian sadar dari pengaruh obat bius yang dimasukkan ke dalam tubuhnya.

Ponselnya pun dirampas oleh sang penculik. Dari ponsel yang dirampas itu, sang penculik lalu menghubungi keluarga Vannesa dan meminta tebusan sebesar Rp 50 juta.

Namun, sebelum tebusan itu diperoleh oleh sang penculik. Vannesa berhasil melarikan diri dari lokasi penyekapan.

Ia melarikan diri setelah berhasil melepaskan ikatan di tangannya.

Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, AKBP Indratmoko yang dikonfirmasi awak media membenarkan laporan itu.

“Masih penyelidikan,” singkat Indratmoko dikonfirmasi via whatsApp, Kamis (23/1/2020) sore.

Sementara orang tua korban, kepada awak media membenarkan kejadian tesebut. Menurut ayah korban, Wing (62), saat diantar pulang oleh tantenya, Vannesa hanya diturunkan di gerbang Jalan Raya Bonto Dg Irate II, tepatnya disamping bangunan sekolah dasar.

Jalan masuk ke rumah Vannesa, kata Wing, diketahui berupa gang kecil dan harus melewati pasar kecil. Jaraknya dari gerbang Jalan Bonto Dg Irate II ke gerbang rumahnya sekira 300-400 meter.

“Jadi tantenya kasih turung di jalan depan (gerban Bonto Dg Irate II) pas jalan masuk adami katanya enam orang pakai masker dekati baru natutup mulutnya, baru nakasih naik di mobil. Sempatji lari tapi didapatki,” ungkap ayah korban.

Saat korban berada di dalam mobil dalam kondisi tersekap, kata Wing, anaknya itu pun disuntik obat bius.

“Di mobil katanya dibius, tidak ditahu bagian apanya yang disuntik. Katanya (Vannesa) disuntik, saya juga belum cek.
Nanti hari Selasa dia baru sadar katanya, karena di ikat dekat jendela. Pas bangun dia lihat cahaya lewat jendela,” ungkap Wing.

Saat sadar, pelaku meminta nomor ponsel keluarganya.

“Itu pelaku katanya (Vannesa) minta nomor telelon saya (orang tuanya), mau minta tebusan Rp 50 juta. Tapi Vannesa tidak bawa HP, saya juga tidak ada HP,” terangnya.

Upaya menghubungi kedua orang tua korban gagal. Ke enam pelaku pun keluar ruangan dan mengunci korban di dalam ruangan seorang diri.

Melihat itu, lanjut Wing, anaknya pun berusaha melepaskan ikatan di tangannya.

“Jadi pas katanya keluar itu pelaku, dia (Vannesa) yang di kunci sendiri dalam kamar, berusaha nalepas itu ikatan di tangan lalu keluar lewat jendela,” cerita Wing didampingi istrinya, Yonavia Papilaya (55).

Vannesa yang berhasil lolos dari sekapan enam pria misterius itu, kemudian berjalan mencari jalanan raya.

Lokasi penyekapan anaknya itu, kata Wing, diperkirakan berada di wilayah adminstratif Kabupaten Gowa.

“Yang dia (Vannesa) sempat lihat di atas mobil hanya bundaran mirip bundaran Samata. Itupun dia tidak tahu persis itu di Gowa, atau dimana, tapi katanya bundaran. Jadi saya jelaskan bundaran Samata, katanya mirip itu. Selain itu dia tidak tahumi,” kata Wing.

Saat di jalan yang ia tidak ketahui, Vannesa mengaku sempat menahan seorang pengendara yang melintas untuk memberi tumpangan.

“Untung ada pengendara lewat yang mau singgah tolongki kasihan, jadi di antar sampai Jalan Hertasning depan gereja, tidak lama dilihatmi sama Omnya lalu diantar kesini (rumah),” tutur Wing.

Saat ini kondisi Vannesa, kata Wing, masih trauma. Ia belum dapat ditemui selain kedua orang tuanya. (*)

loading...

Posmakassar.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya