Psikolog UNM : Pelaku Penyimpangan Seksualitas Butuh Therapy, Bukan Hukuman

23 September 2020 18:15
Psikolog UNM : Pelaku Penyimpangan Seksualitas Butuh Therapy, Bukan Hukuman

POSMAKASSAR.COM – Saat ini permasalahan psikolog santer diderita masyarakat terutama di kota besar seperti Makassar, Sulawesi Selatan. Salah satunya, kasus penyimpangan seksualitas yang kembali marak terjadi.

Seperti diketahui, kasus teror video asusila beberapa waktu lalu, yang dialami oleh korban salah satu mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Kota Makassar berinisial EL, yang pelakunya merupakan Orang Tak Dikenal (OTK) dianggap sebagai penyimpangan seksual.

Pasalnya pria tersebut mempertontonkan alat kelaminnya kepada korbannya, yang kebanyakan seorang wanita lewat video call whatsapp.

Menurut kesaksian korban EL, telpon tersebut berasal dari nomor yang tak di kenal. Sempat tak digubris panggilan video terus berdatangan beberapa kali dan saat panggilan video tersebut di terima pihak penelpon mengarahkan kamera ke alat kelaminnya. EL kemudian memilih mengakhiri panggilan video dan menginformasikan kepada rekannya agar tak menanggapi panggilan yang sama.

“Saya bilang jangan diangkat karena dia kasih liat itunya (alat vital). Tapi ada tiga orang itu yang korban, satu kelasku. Dua video call begitu, kayak saya. Satu dikirimi video, pamer alat kelaminnya. Enam orang semua teman kelasku tiga orang tidak sampai diangkat,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Psikolog dari Universitas Negeri Makassar (UNM), Harlina Hamid menilai, maraknya penelpon aksi seksualitas seperti yang dialami EL, dilakukan oleh orang yang mengalami gangguan seksual.

“Dalam psikopatologi ada gangguan exhibisionisme namanya, yang merasamerasasenang dan terangsang jika menunjukkan alat vitalnya pada orang lain,” ujarnya saat dikonfirmasi lewat whatsapp, Rabu (23/09/2020).

Lebih jauh kata Herlina, jika mendapati situasi semacam ini, hendaknya korban tidak menanggapi berlebihan. Hal tersebut kata Herlina karena reaksi apapun bisa memicu rangsangan bagi pelaku.

“Tidak ditanggapi berlebihan, entah tanggapan suka atau tidak suka, karena biasanya dua duanya membuat orang makin terangsang” bebernya.

Selanjutnya Herlina menyarankan bagi para korban agar tidak memberi respon terhadap panggilan semacam ini.

“Kalau sudah tahu telpon itu negatif, langsung di blokir saja. Tapi untuk efek jera, bisa juga dilaporkan ke pihak yang berwajib agar tidak melakukan lagi” ujarnya.

Lebih jauh, Herlina mengatakan bahwa penyakit mental seperti itu membutuhkan bantuan psikiater.

“Sebenarnya orang seperti ini membutuhkan teraphy daripada tindakan hukum. Bisa bentuknya psikoanalis, Cognitive behavior therapy ( CBT), bisa dengan Play Therapy, pungkasnya. (*)

loading...

Posmakassar.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya