Liput Kunjungan Kapolda Sulsel di Sengkang, Awak Media Mengaku Diusir Walpri

27 September 2020 23:04
Liput Kunjungan Kapolda Sulsel di Sengkang, Awak Media Mengaku Diusir Walpri

POSMAKASSAR.COM – Kunjungan 
Kapolda Sulsel, Irjen Pol Merdisyam di Kota Sengkang, Kabupaten Wajo diwarnai insiden pengusiran terhadap jurnalis salah satu stasiun televisi nasional, Minggu (27/9/2020).

Pengusiran itu diduga dilakukan oknum pengawal pribadi (walpri) Kapolda Sulsel.

Hendra Sutomo, jurnalis TV One, kepada sejumlah media mengakui bila dirinya diusir saat Kapolda Sulsel dan Ibu Ketua PD Bhayangkari berkunjung di ‘Kota Sutera’ tersebut, dalam rangka memperingati HKGB ke- 68 dengan melaksanakan kegiatan bakti sosial di Kabupaten Wajo.

Menurut Hendra Sutomo, kejadian itu bermula saat sejumlah wartawan tv ingin mengambil gambar ketika Kapolda Sulsel dan Ibu Ketua PD.Bhayangkari menjenguk Hidayah, seorang anak penderita kanker di jalan Andi Parenrengi Kecamatan Tempe, Kota Sengkang, Kabupaten Wajo.

Saat mencari posisi untuk pengambilan gambar, kata Hendra, sejumlah oknum diduga Walpri Kapolda Sulsel yang memakai seragam safari berwarna hijau, malah mengusirnya. Padahal atribut seperti baju seragam dan id card melekat padanya saat menjalankan tugas.

“Saya sudah izin dan memperkenalkan diri. Tetapi tetap diusir sama oknum pengawal pribadi (Walpri) Pak Kapolda,” kesalnya.

Tindakan tersebut cukup disesalkan oleh Hendra. Sebab, peliputan itu juga didasari atas undangan dari Humas Polres Wajo.

“Peristiwa tadi sangat tidak pantas dilakukan. Kami hanya menjalankan tugas jurnalistik. Kami bahkan lengkap dengan seragam dan id card,” tambah Hendra. 

Menanggapi hal tersebut, Ketua AJI Makassar, Nurdin Amir mengatakan, melarang jurnalis itu tidak dapat dibenarkan. Karena tindakan tersebut bertentangan dengan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

“Polisi tidak berhak melarang atau mengusir jurnalis yang liputan kunjungan Kapolda Sulsel di Kabupaten Wajo. Jurnalis berhak melakukan kerja-kerja jurnalistik yang berkaitan dengan hak publik. Pengusiran ini menunjukkan bentuk tindakan tidak profesional menghadapi jurnalis,” katanya.

Mengusir jurnalis dari lokasi liputan lanjutnya, sama saja menghalangi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar dan akurat di lapangan. Tindakan itu mengancam kebebasan pers.

“AJI Makassar meminta polisi tidak perlu alergi terhadap kerja-kerja jurnalis. Sebab, jurnalis atau pers berhak mengembangkan pendapat umum berdasarkan infromasi yang tepat, akurat, dan benar,” ungkap lelaki yang akrab disapa Nuru itu.

“Jurnalis dilindungi oleh UU Pers saat menjalankan kegiatan jurnalistik. Mulai dari mencari sampai sampai pemuatan atau penyiaran berita. Makanya, kami mengecam tindakan pengusiran ini. Ini sama halnya, menghalang-halangi kerja jurnalis,” imbuhnya.

Sementara, Kapolda Sulsel, Irjen Merdisyam membantah pengusiran tersebut dan menganggap insiden itu hanya miskomunikasi.

“Tabe, saya rasa tidak ada pengusiran dan pelarangan pengambilan gambar. Apalagi tadi itu kegiatan sosial. Mungkin yang terjadi hanya kesalahpahaman saja, karena tadi lokasinya terlalu kecil dan berdesakan,” kata Merdisyam kepada wartawan.

Merdisyam berharap, insiden tersebut bisa dipahami situasi dan kondisinya.

“Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Ke depan, kita lebih meningkatkan sinerginya lagi,” ungkapnya. (*)

loading...

Posmakassar.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya