Gunakan Mobil Pete-Pete Modifikasi, SPBU Parangmata Takalar Diduga Jual BBM Subsidi ke Pengecer

10 November 2020 21:52
Gunakan Mobil Pete-Pete Modifikasi,  SPBU Parangmata Takalar Diduga Jual BBM Subsidi ke Pengecer

POSMAKASSAR.COM – Mobil angkutan umum (pete-pete) diduga telah dimodifikasi tangki bahan bakarnya terlihat rutin mengambil Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 74.922.03 Tamala’lang, Desa Parangmata, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar.

SPBU tersebut diduga kuat melayani konsumen yang mengisi BBM bersubsidi jenis premium dengan jumlah banyak. Dimana, tanki kendaraan roda empat konsumen itu telah dimodifikasi, sehingga dapat menampung BBM dalam jumlah banyak.

Berdasarkan pantauan dilapangan, kendaraan roda empat jenis angkutan umum (Pete-pete) warna merah tersebut, dengan Nomor Polisi DD 1974 BJ, dari pagi hingga sore keluar masuk di SPBU Parangmata untuk mengisi BBM jenis premium (bensin). Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (07/11/2020) lalu.

Tindakan pihak SPBU Parangmata yang melayani penjualan BBM bersubsidi kepada konsumen dengan jumlah banyak itu, kemudian mendapat sorotan dari pihak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jaringan Penggiat Anti Korupsi dan Kriminal (Jangkar) Sulsel.

Ketua Jangkar Sulsel, Sahabuddin Alle mengatakan, kekosongan premium (bensin) di SPBU itu selama ini, disinyalir bukan karena habis dibeli masyarakat menengah ke bawah, tetapi dijual kepada pengecer menggunakan kendaraan jenis pete-pete yang tangkinya sudah dimodifikasi.

“Kami banyak menerima laporan kalau pihak SPBU melayani pengecer. Modusnya, pengecer itu sudah memodifikasi tanki mobilnya agar bisa menampung bensin dalam jumlah yang banyak. Apalagi, mobil dengan nomor Polisi yang sama keluar masuk SPBU dari pagi sampai sore. Jelas ini merupakan pelanggaran yang dilakukan oleh pihak SPBU,” tegasnya.

Sahabuddin mengatakan, tindakan memodifikasi tanki bahan bakar kendaraan sudah melanggar hukum, dan pelaku dapat dikenakan sanksi pidana. Hal itu diatur di Pasal 55 Undang-undang Tahun 2001, Tentang Minyak dan Gas Bumi, dimana sanksi diberikan kepada para pelaku modifikasi kapasitas tanki BBM bukan hanya ancaman penjara tapi denda.

“Sanksi hukumannya tidak main-main dengan pidana penjara paling lama 6 tahun. Demikian juga untuk SPBU yang menjual BBM Subsidi dalam jumlah besar ke pengecer tanpa adanya surat rekomendasi dari pemerintah setempat,” ungkapnya.

Untuk itu, Sahabuddin meminta kepada PT Pertamina untuk memberikan sanksi kepada SPBU yang melayani konsumen nakal, yang mengakibatkan BBM jenis premium tidak dapat dirasakan sebagian masyarakat bawah.

“Saya minta PT Pertamina segera menindaki pengelola SPBU Parangmata. Bila tidak, saya akan laporkan ke Kementerian ESDM dan Polda Sulsel,” tegasnya.

Sementara itu, salah seorang pengecer BBM, Jusman Daeng Timung mengakui bila ia setiap hari membeli premium jenis bensin di SPBU Parangmata untuk dijual kembali pedagang.

“Kurang lebihma satu tahun keluar masuk di SPBU Parangmata ambil bensin, pak. Kemudian saya jual ke pedagan-pedagang kecil,” akunya.

Terpisah, penanggungjawab SPBU Parangmata, Syahrir yang berusaha dikonfirmasi mengenai hal tersebut, Senin (9/11/2020), enggan berkomentar. (*)

loading...

Posmakassar.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya