The Flame, Film Dokumentar Miliki Pesan Cinta Lingkungan di Tanah Kalimantan

09 December 2021 14:26
The Flame, Film Dokumentar Miliki Pesan Cinta Lingkungan di Tanah Kalimantan

POSMAKASSAR.COM – Film dokumenter yang berjudul “The Flame”, produksi bersama Abimata Group, Cineria Film, RM Cine Makassar, dan Aljazeera Documentary Channel berkolaborasi dengan Yayasan Dian Sastrowardoyo dan Sejauh Mata Memandang.

Film tersebut berisi pesan moral dalam mengedukasi masyarakat Indonesia untuk ikut melestarikan hutan adat di Kalimantan.

Film ini menceritakan kisah perjuangan Iber Djamal (80 tahun) sebagai penduduk asli Kalimantan yang mempertaruhkan sepanjang hidupnya untuk mendapatkan hak waris atas hutan adatnya. Film yang juga bertujuan memaparkan isu krisis iklim dan lingkungan hidup yang telah menjadi permasalahan besar di negara ini akan tayang secara eksklusif di Makassar Panakkukang XXI pada hari ini, Jumat, 03 Desember 2021, pukul 15.00 WITA dengan dihadiri para tim produksi, pemain, dan juga kolaborator.

“The Flame” merupakan film dokumenter panjang pertama yang disutradarai oleh Arfan Sabran dan diproduseri oleh Gita Fara. Film ini telah tayang di Vision du Reel Film Festival di Swiss pada April 2021, DMZ International Documentary Film Festival di Korea pada September 2021, BIFED Ecology Film Festival di Turki pada Oktober 2021, dan Jogja NETPAC Asian Film Festival pada November 2021. Selanjutnya, film dokumenter ini akan tayang perdana di Singapore International Film Festival pada Desember 2021 nanti. Film The Flame juga berhasil meraih nominasi Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori film dokumenter panjang terbaik.

“Bagi kami, masyarakat adat, hutan merupakan jantung dan paru-paru kehidupan, yang merupakan bentuk penghormatan kami kepada para leluhur hingga memiliki peran penting untuk keberadaan ekosistem tumbuhan dan binatang yang hidup saling berdampingan. Saya sangat berharap besar kepada penerus saya dan generasi muda di Indonesia untuk mulai membantu perjuangan kami, karena hutan adat adalah identitas kita bersama. Semoga film ini dapat ditonton oleh berbagai pihak dan seluruh lapisan masyarakat di Indonesia”, ungkap Iber Djamal.

Sementara itu, sutradara Arfan Sabran, mengatakan, “Saya sangat berharap film dokumenter “The Flame” bisa membuka mata masyarakat dan menumbuhkan semangat generasi muda untuk mulai berinisiatif melakukan berbagai hal sederhana dalam melindungi dan melestarikan hutan di Indonesia. Kita bisa belajar bersama-sama dari perjalanan hidup Pak Iber Djamal (80 tahun) yang terus berusaha keras untuk mempertahankan hutan adatnya. Melalui film ini saya juga mengangkat sisi kekeluargaan, bagaimana beliau mengajarkan cucunya untuk mengenal ekosistem tumbuhan, binatang hingga barang peninggalan para leluhur adat Kalimantan.”

“The Flame” memperlihatkan kehidupan masyarakat adat secara nyata dan membawa penonton untuk ikut merasakan investigasi tentang bagaimana proses deforestasi yang berlebihan di Indonesia telah menciptakan dampak dan kerugian nyata bagi seluruh wilayah di hutan Kalimantan. Kami juga berharap dengan adanya kolaborasi film dokumenter “The Flame” dengan Yayasan Dian Sastrowardoyo dan Sejauh Mata Memandang dapat membantu mempercepat dan memperluas edukasi yang akan kami lakukan di berbagai wilayah Indonesia terkait isu krisis iklim dan isu lingkungan hidup, terutama hutan adat yang kian punah”, ungkap Produser Gita Fara. (*)

loading...

Posmakassar.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya