Rekonstruksi Hari Kedua Kasus Pembunuhan Najamuddin Sewang, TKP di Jalan Danau Tanjung Bunga

20 May 2022 21:28
Rekonstruksi Hari Kedua Kasus Pembunuhan Najamuddin Sewang, TKP di Jalan Danau Tanjung Bunga

POSMAKASSAR.COM – Rekonstruksi hari kedua kasus penembakan Najamuddin Sewang (Pegawai Dishub Makassar) berlanjut hari ini, Jumat (20/5/2022).

Rekonstruksi kali ini dilakukan di pertigaan Jalan Danau Tanjung Bunga, tepat depan Masjid Cheng Hoo. Lokasi ini diketahui menjadi tempat terjadinya penembakan.

Dilokasi, tiga jalur ditutup polisi. Warga dan sebagian pengendara pun singgah melihat proses rekonstruksi.

Dalam rekonstruksi ini, tersangka Chaerul Aklam (CA) memperagakan cara ia menembak korban Almarhum Najamuddin Sewang (korban diperagakan orang lain).

Dalam adegan tersebut, korban berkendara dari arah Jalan Metro Tanjung Bunga, kemudian
disusul oleh Chaerul yang menutup seluruh kepalanya dan menggunakan jaket ojek online.

Saat mendekati pertigaan, Chaerul memperagakan mengambil pistol dan langsung menembak korban, sehingga korban jatuh tersungkur di aspal.

Setelah korban jatuh, saksi Nasir yang juga dihadirkan dilokasi, kemudian mendatangi korban yang tergetelak di aspal.

Terlebih dulu Nasir mengangkat sepeda motor yang jatuh dan standar samping, kemudian menolong korban.

Tidak jauh dari lokasi korban terjatuh, Chaerul memperagakan sempat singgah melihat korban dari kaca spion sepeda motornya.

Berdasarkan rekonstruksi tersebut, Chaerul Aklam diketahui menembak Najamuddin dari jarak tiga meter.

Setelah melakukan penembakan, di jembatan Tanggul Patompo atau sekitar 1 Km dari lokasi kejadian, tersangka Chaerul Aklam kemudian membuang jaket ojek online Maxim yang dikenakannya ke kanal.

Selanjutnya, setelah membunuh korban, tersangka Chaerul Aklam kemudian kembali ke rumah kostnya yang berada di belakang Markas Brimob Pa’bareng-bareng. Namun lokasi rekontruksi Brimob Pa’bareng-bareng digantikan di markas Polsekta Tamalate.

Disitu tersangka Chaerul kemudian menyerahkan pistol ilegal dan motor yang disiapkan oleh tersangka Sulaeman (SL).

Kemudian SL kembali menyerahkan uang bayaran yang telah disiapkan oleh Muhammad Iqbal Asnan.

Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, AKBP Reonald T Simanjuntak yang dikonfirmasi mengatakan, rekonstruksi dalam kasus ini sebanyak 28 adegan dengan 8 lokasi kejadian.

“Di Tempat Kejadian Perkara (TKP) penembakan, ada 4 adegan. Tersangka pepet korban yang sedang mengendarai motor dan langsung menembak dengan jarak 3 meter. Tersangka CA menembak menggunakan tangan kiri sambil mengendarai motor. Korban jatuh setelah ditembak, dan tersangka memastikan bahwa targetnya telah meninggal,” katanya.

Reonald menjelaskan, jika tersangka Chaerul Aklam mengikuti korban dari tempat kerjanya. Selain itu dua oknum polisi yang terlibat pembunuhan dibayar Rp 200 juta.

“Bayaran membunuh korban totalnya Rp 200 juta, namun dibayar secara berangsur. Tapi kedua tersangka SL dan CA baru menerima Rp 90 juta. Uang yang kita sita Rp 85 juta, sedangkan sisanya Rp 5 juta sudah habis digunakan tersangka. Di luar uang Rp 90 juta, disiapkan uang Rp 20 juta untuk biaya operasional dengan membeli motor dan pistol melalui penjualan online,” ungkapnya.

Iqbal Tak Pernah Bertemu Eksekutor

Diberitakan sebelumnya, penyidik Polrestabes Makassar melakukan reka ulang proses perencanaan dan pembunuhan pegawai honorer Dinas Perhubungan (Dishub) Makassar, Najamuddin Sewang, Kamis (19/5/2022) kemarin.

Rekonstruksi awal ini dilakukan pada beberapa tempat berbeda dengan melibatkan para tersangka dan beberapa saksi.

Dalam rekonstruksi, Kepala Satpol PP Makassar, Iqbal Asnan, yang disebut penyidik sebagai otak pembunuhan berencana itu, tidak pernah bertemu langsung dengan Chaerul Aklam, oknum polisi yang ditersangkakan sebagai penembak Najamuddin di Jalan Danau Tanjung Bunga, Makassar.

Rekontruksi berawal dari rumah pejabat Dishub Makassar, Rachmawati, wanita yang disebut menjadi penyebab munculnya perencanaan pembunuhan pada Najamuddin.

Kejadian itu, sesuai rekonstruksi, dimulai pada 2020. Ketika itu, Iqbal memimpin tim penyemprotan disenfektan corona di perumahan Grand Aeropala, Kecamatan Manggala, Kota Makassar.

Saat akan menyemprot rumah Rachmawati, Iqbal menemukan Najamuddin berada dalam rumah wanita yang disebut kekasih gelapnya itu. Dari kejadian inilah, disebut oleh penyidik, mulai muncul tekad Iqbal menghabisi Najamuddin.

Sementara Pengacara Iqbal, Syarifuddin Marappa SH mengatakan, masih banyak keterangan yang harus dikonfirmasi lagi kepada saksi-saksi. Padahal logikanya, menurut Syarifuddin, harusnya penyidik tinggal melaksanakan isi BAP.

Beberapa adegan tersangka M Asri, juga dibantah Iqbal di lokasi rekonstruksi.

Asri adalah sopir Iqbal saat menjabat Kepala Satpol (Kasatpol) PP Makassar.

Dalam rekonstruksi, Iqbal diikuti Asri dan Karto (saksi) membuka pintu pagar rumah Rachmawati. Iqbal langsung masuk dan mengetuk pintu.

Asri dan Karto menunggu di teras rumah. Hingga adegan itu, Iqbal, Asri, dan Karto sepakat. Namun selanjutnya, Iqbal membantah pengakuan Asri bahwa dia mendapati Rachmawati dan Najamuddin berduaan di sofa rumah.

“Misalnya adegan di rumah saksi R. IA tidak melihat R di kursi sofa di ruang dalam atau ruang tengah, tapi hanya korban (Najamuddin). Saksi R ada di dapur menutup makanan karena rumahnya akan disemprot disinfektan . Sementra BAP lewat keterangan tersangka AS melihat R di dalam ruang tengah bersama korban,” jelas Syarifuddin.

Iqbal mengaku hanya menemui Najamuddin duduk di sofa ruang tamu. Saat itu, Rachmawati sedang berada di dapur menutup makanan karena rumah itu akan disemprot disinfektan.

“Jadi menurut IA, dia sudah menelepon Rachmawati akan ke rumahnya menyemprot disinfektan. Makanya, ketika Iqbal sudah tiba, dia ke dapur menutup makanan agar tidak kena disinfektan,” jelas Syarifuddin.

Beberapa kali terdengar suara keras membentak Asri yang gagap menjelaskan sesuatu.

“Katakan, jangan takut,” demikian suara keras yang beberapa kali terdengar mengiringi penjelasan Asri yang terbata-bata di lokasi rekonstruksi rumah Rachmawati.

Setelah mendapati Najamuddin di rumah Rachmawati, Iqbal disebutkan cemburu buta dan bertekad menghabisi lelaki yang dia masukkan menjadi honorer di Dishub Makassar, saat Iqbal menjabat Plt Kadishub Makassar tahun 2019.

Asri salah satu orang dekat Iqbal yang sering menjadi tempat Iqbal curhat tentang kelakuan Najamuddin.

Awalnya, Iqbal dikatakan akan menghabisi Najamuddin melalui jasa dukun, santet. Usaha ini dilaksanakan oleh Asri dan Sahabuddin, saksi dalam kasus ini.

Rencana menyantet Najamuddin itu diperagakan dalam rekonstruksi di rumah Iqbal di Jalan Beringin, Makassar.

Hanya saja, akses untuk melihat dan mendengar langsung adegan di rumah di Jalan Beringin itu sangat terbatas. Wartawan hanya dibolehkan berada di luar pagar yang dijaga ketat petugas. (*)

loading...

Posmakassar.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya