Delusi Jelang Pilpres

Redaktur
Redaktur

Sabtu, 09 Desember 2023 10:07

Delusi Jelang Pilpres

Delusi adalah suatu keyakinan atau kenyataan semu yang diyakini oleh seseorang secara terus menerus meskipun bukti atau kenyataannya berlawanan.

Umumnya, delusi ini merujuk pada gangguan mental.

Keyakinan orang yang ‘terjangkit’ delusi akan dipegang secara kuat meski itu belum tentu akurat, dan itu akan terus ada dalam pikirannya, walaupun bukti
menunjukkan hal tersebut tidak memiliki dasar dalam kenyataan.

Dalam ilmu psikiatri , delusi diartikan sebagai kepercayaan yang bersifat patologis (hasil dari penyakit atau proses sakit) dan terjadi walaupun terdapat bukti yang berkebalikan.

Sebagai penyakit , delusi berbeda dari kepercayaan yang berdasar pada informasi yang tidak lengkap atau salah, dogma, ‘kegelapan’ ingatan yang buruk, ilusi, atau efek lain dari suatu persepsi.

Delusi ini sejatinya bisa menyudutkan seseorang untuk melakukan tindakan yang mencakup situasi. Seseorang bertindak berdasarkan persepsi salah yang membuat kita membayangkan respon negatif dari orang lain, karena mungkin saja orang tersebut justru mendapat reaksi seperti yang dibayangkan sehingga memperkuat rasa takut bahkan bisa jadi sebaliknya, memperkuat keberanian berlebihan karena orang tersebut ‘yakin’ dan keyakinannya itu melampaui kehendak Allah, kehendak Sang Maha Mengetahui Segala Hal.

Etimologi Kata Delusi

Kata delusi berasal bahasa Latin
delusio. Kata ini telah mulai digunakan sejak sekitar tahun 1400-an pada peradaban Barat di Eropa.

Kata delusi itu sendiri berasal dari kata kerjanya deludere yang berarti “membuat tipu muslihat, menipu, mencurangi” (menipu, mempermainkan, menipu).

Sinonim kata tersebut dalam Bahasa Indonesia, yaitu waham, berasal dari Bahasa Arab wahmun yang artinya “keyakinan yang bertentangan dengan akal.” Kata wahmun telah disebut-sebut dalam kepustakaan berbahasa Arab sejak abad ke-9 Masehi dalam tulisan sejumlah filsafat (muslim dan non-muslim) pada Peradaban di Kordoba dan Baghdad, terutama dalam kaitannya dengan pembahasan-pembahasan mengenai filsafat kejiwaan yang disampaikan pada budaya Yunani Kuno.

Lalu bagaimana Delusi itu ?

Kalau dicontohkan, delusi itu banyak kita temukan menjelang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, seperti saat ini.

Seperti seorang teman saya dan bisa jadi pada beberapa orang lainnya. Di group-group WhatsApp (WA), teman saya ini seorang pendukung salah satu Capres dan Cawapres tertentu. Ia tampak yakin
bahwa figur yang di ‘jagokannya’ akan menang dalam Pilpres 2024 nanti.

Sebenarnya yakin boleh-boleh saja, tapi ada beberapa hal yang membuat saya tersenyum melihatnya. Dari berbagai tulisan, foto dan video yang dishare,
saya lihat ia tidak hanya yakin bahwa figur Capres dan Cawapres ‘jagoannya’ itu akan menang, tapi ia bahkan yakin bahwa Tuhan akan memihak kepadanya dan Tuhan pasti menghendaki kemenangan itu.

Bagaimana kita tahu kehendak Tuhan ?

Kita tentu tidak tahu, dan tidak mungkin tahu. Tapi sangat banyak orang yang ‘merasa’ sok tahu. Termasuk teman saya itu.

Orang yang sok tahu menyangkut ‘keputusan’ Tuhan, itulah yang disebut delusi.

Teman saya tadi yakin bahwa jagoannya akan menang. Makanya ia tak peduli pada hasil-hasil survei yang menunjukkan rendahnya elektabilitas figur jagoannya. Pokoknya ia percaya bahwa kalaupun hasil survei itu benar, Tuhan punya cara untuk mengubahnya dan yakin Tuhan akan memihak pada dirinya.

Bagaimana caranya?
Ini yang agak menyedihkan…

Bahkan dengan keyakinannya itu, teman saya ini telah dibutakan oleh situasi, apapun yang termasuk masalah bagi figur Capres-Cawapres lainnya, yang di share orang lain di medsos atau group-group WA selalu ‘ditelan’ mentah-mentah oleh teman saya ini termasuk percaya berita-berita hoax, meyakini semua ‘panah-panah’ fitnah yang ‘ditembakkan’ oleh para buzzer politik serta cenderung membuat narasi-narasi sendiri demi menyakinkan orang lain tentang kehebatan figur jagoannya.

Sebenarnya teman saya ini tidak sendiri. Ada banyak orang yang berpikir begitu. Dan, orang-orang seperti ini selalu berkilah, bahwa Tuhan Maha
Berkehendak, dan apa yang dia atau mereka yakini pasti itu adalah kehendak Tuhan.

Padahal semua ini sama sekali bukan soal misteri tentang kehendak Tuhan. Ini hanyalah soal delusi mereka yang sudah sangat parah.

Itu masih belum seberapa. Bahkan banyak dari mereka yang masih ‘mengidap’ delusi sejak jagoan mereka kalah pada Pilpres yang lalu.

Kondisi ini diperparah karena mereka yakin bahwa sebenarnya Tuhan bahkan tidak menghendaki Jokowi menang pada Pilpres yang lalu.

Bagaimana mungkin Jokowi bisa menang selama dua periode kalau Tuhan tidak menghendakinya?

Kata mereka, Jokowi menang karena dibantu oleh suatu kekuatan jahat yang mendukungnya.

Makanya, sejak Pilpres kemarin hingga hari ini, mereka tetap ‘tidak meyakini’ Jokowi, meskipun pada era pemerintahan Jokowi telah membuahkan keberhasilan pembangunan dalam negeri dan kesuksesan dalam peranan politik luar negeri.

Begitulah…

Delusi memang kadang membutakan akal sehat, bahkan punya mekanisme untuk mematikan akal sehat.

Seperti kata Ibn Sina, Waham (delusi) itu penyakit kejiwaan yang berbahaya, ia dapat mempengaruhi seseorang kehilangan keyakinan positif (self esteem), bahkan keyakinan atas kemampuan diri sendiri (self-efficacy).

Kalau dalam istilah medis dan psikosis, delusi itu salah satu jenis gangguan mental serius. Kondisi ini ditandai dengan kesulitan untuk membedakan mana hal yang bersifat kenyataan dan mana yang merupakan imajinasi.

Penderita gangguan delusi sering meyakini hal-hal yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Walau sudah terbukti bahwa apa yang diyakininya tidak benar, dia tetap akan berpegang teguh pada pemikirannya dan menganggap bahwa apa yang diyakini tersebut benar. (*)

Penulis : Zulkarnain Ali Naru

 Komentar

Berita Terbaru
Metro05 Maret 2024 16:46
Damkar Makassar Sigap Selamatkan Ibu Terjebak Lift di Puskesmas Kassi Kassi
POSMAKASSAR.COM — Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Makassar, dengan sigap menyelamatkan seorang ibu yang terjebak di lift Puskesmas Kassi K...
Metro05 Maret 2024 16:37
PJ Sekda Hadiri Penilaian Perencanaan Dokumen
POSMAKASSAR.COM — PJ Sekda Makassar, Firman Hamid Pagarra menghadiri penjurian penilaian untuk OPD dengan perencanaan terbaik, di Balaikota, Senin (...
Metro05 Maret 2024 16:27
Danny Pomanto Berhasil Antar Makassar Raih Lima Penghargaan Adipura
POSMAKASSAR.COM — Kepemimpinan Walikota Makassar Moh Ramdhan Pomanto dalam menjalankan roda pemerintahan mengukir banyak prestasi. Salah satunya...
Lifestyle05 Maret 2024 12:02
Gelar Novo Club Batch 3, POSParagonCorp Pecahkan Rekor MuRI
POSMAKASSAR.COM — POSParagon Corp gelar pembukaan NovoClub Batch 3 yang dilaksanakan serentak di 15 titik di Indonesia. Program pengembangan k...